Beras Langka Sehingga Pemasok Pasar Induk Anjlok

Beras Langka Sehingga Pemasok Pasar Induk Anjlok – Supply beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) anjlok saat itu juga sesudah pemerintah keluarkan Ketentuan Menteri Nomor 47 Th. 2017 mengenai Harga Eceran Teratas Beras sejumlah Rp 9 ribu.

” Senin minggu lantas supply beras menjangkau 4. 262 ton /hari, mendadak turun mencolok mulai sejak Senin minggu ini, ” tutur Sekretaris Perusahaan PT Food Station Cipinang, Suratmin Suria Wijaya. Kata dia, supply beras turun mencolok jadi 2. 569 ton /hari mulai sejak Senin, 24 Juli 2017. Perusahaan plat merah punya Pemerintah DKI Jakarta itu yaitu pengelola PIBC.

Supply selalu alami penurunan pada Selasa, 25 Juli jadi cuma 1. 898 ton /hari. Sedang jumlah pengeluaran di hari yang sama menjangkau 2. 252 ton. Berarti beberapa pedagang mesti merogoh cadangan beras didalam pasar.

Menurutnya, pada minggu lantas, keseluruhan akumulasi stock beras menjangkau 44 ribu ton. Pada minggu ini, stock beras alami penurunan mencolok jadi 43. 637 ton. Jumlah supply beras diprediksikan selalu alami penurunan bersamaan dengan pemberlakuan ketentuan pemerintah itu.

Ketentuan itu mewajibkan pedagang jual beras premium maksimum Rp 9 ribu. Walau sebenarnya, kata Suratmin, di pasar ada sekitaran 10 type beras premium. Pada hari normal, 10 type beras itu di jual dari mulai Rp 8. 100 sampai Rp 13. 820 per kg. ” Bila jual ecerannya maksimum Rp 9 ribu, pedagang tentu bingung, mereka ingin jual berapakah? “

Patokan harga eceran Rp 9 ribu cuma dapat dipakai untuk beli beras type IR-64 KW II serta KW III. Pedagang tidak bisa memainkan margin keuntungan. Walau sebenarnya mereka mesti beli beras di tingkat petani dengan harga pokok yang telah diputuskan. Belum juga ditambah dengan cost pengiriman, pengemasan, kuli, type beras, daerah asal, tingkat kandungan air, kepulenan beras, serta beragam hal yang memengaruhi harga.

” Bila problem ini berkenjangan, di kuatirkan stock juga akan menipis, ” ucap dia. Walau sebenarnya disana ada sekitaran 600 pedagang beras serta beberapa ribu kuli. Belum juga ditambah 70 % warga Jakarta beli beras dari PIBC. Berarti peluang juga akan berlangsung kelangkaan beras di Jakarta.

Karenanya, dia memohon pemerintah berjumpa dengan beragam pihak untuk berembuk lalu pengenalan. Pemerintah tidak dapat seenaknya mengaplikasikan harga batas maximum beras premium Rp 9 ribu. Karna beberapa pedagang umumnya sudah beli beras mulai sejak jauh hari sebelumnya ketentuan itu diputuskan. Ada peluang mereka tidak untung.

Uban, 42 th., seseorang kuli panggul beras yang telah 31 th. di PIBC kaget dengan kebijakan itu. Baru kesempatan ini pemerintah mengaplikasikan harga beras sepihak. Hal semacam ini membuatnya tidak dapat bekerja mulai sejak Senin kemarin.

” Umumnya saya dapat manggul beras dua hingga tiga truk, saat ini satu truk saja boro-boro, ” kata Uban. Hal semacam ini berlangsung karna pedagang daerah tidak berani kirim beras ke Jakarta. Argumennya harga terjangkau. Mereka lebih pilih jual beras di daerah semasing.