Cabuli 9 Siswi SD di Kelas, Guru Agama SD di Kaltim Jadi Tersangka

Cabuli 9 Siswi SD di Kelas, Guru Agama SD di Kaltim Jadi Tersangka – BS (57), guru agama suatu SD negeri di Kota Bangun, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, jadi terduga sebab mencabuli beberapa siswinya dalam kelas. BS menyatakan cuma iseng.

“Sesaat sich pengakuannya sekadar iseng saja,” kata Kasat Reskrim Polres Kukar AKP Damus Harapan waktu dihubungi melalui telpon, Senin (25/2/2019).

BS disangka sudah lakukan tindakan bejatnya ini mulai sejak 2018 waktu lalu. Modusnya, banyak siswi ia panggil ke depan kelas waktu jam pelajaran kemudian ia pangku. BS lantas lakukan perbuatan cabul pada korban.

“Kalaupun dari info anak-anak sebagian orang diberi lihat film-film telanjang,” pungkasnya.

Banyak korban tidak dapat menantang waktu dicabuli oleh guru agama BS, orang yg harusnya membuat perlindungan mereka. BS nyata-nyatanya meneror banyak korban supaya tak memberi kabar tindakan cabul itu pada siapa-siapa saja.

“Kalaupun tak dituruti tak kan dikasih nilai agama. Kalaupun memberikan tahu ke orangtua pun gak diberi nilai,” kata AKP Damus.

Masalah ini sendiri dapat tersingkap lantaran terdapatnya salah seseorang siswi yg melapor pada orang tuanya. Orangtua siswi itu lantas memberitahu ke orangtua murid yang lain apa anak mereka sempat dicabuli pemeran. Beberapa siswi lantas mengamini. Banyak orangtua ini lantas mendatangi rumah kepala sekolah serta minta masalah ini diusut.

Kepala sekolah sehabis lakukan pemanggilan menyampaikan, BS tak mengaku tingkah lakunya. Banyak orangtua ini lantas memberikan laporan masalah ini ke Polsek Kota Bangun. Polisi lantas mendatangi rumah serta tangkap BS. Beberapa tanda untuk bukti diambil dari pemeran serta korban. Waktu dicheck, BS mengaku tingkah lakunya mencabuli pemeran.

AKP Damus menyatakan, pihaknya tetap senantiasa meningkatkan masalah ini. Polisi tetap memahami adakah siswi yang lain yg jadi korban.

BS sekarang mendekam di area tahanan Polres Kukar. Ia dijaring klausal 287 KUHP serta klausal 76e junto klausal 82 ayat 2 UU Perlindungan Anak dengan ultimatum maksimum 15 tahun penjara.

“Kita pun kedepannya ingin undang psikiater untuk mengecek apa ia ada problem jiwa. Terduga ini telah berusia pun,” kata AKP Damus.