Sabina Menuturkan Tidak Akan Melepas Cadar Di Tempat Umum

Sabina Menuturkan Tidak Akan Melepas Cadar Di Tempat Umum – Unjuk perasaan protes larangan pemakaian penutup muka ditempat umum di Denmark gagasannya akan diselenggarakan bertepatan di hari pertama pemberlakuannya, Rabu (01/08).

” Saya akan tidak melepas penutup muka Bila saya terlepas itu karena tekad saya sendiri serta sesuai dengan kepercayaan saya, ” tutur Sabina, 21 tahun, masyarakat negara Denmark yang calon guru serta berpedoman Islam.

Bersama dengan rekan-rekannya yang non-Muslim, Sabina akan lakukan unjuk perasaan menampik larangan itu, seperti dilaporkan kantor berita Reuters.

” Saya memang seharusnya menyatu dengan penduduk Denmark, masih itu tidak bermakna jika yang bercadar tidak mengerti nilai-nilai yang laku di negara ini, ” kata Meryem, mahasiswa kedokteran di Kampus Aarhus.

Dalam unjuk perasaan itu, mereka akan membawa pesan Kvinder I Dialog atau Women In Dialogue.

Mathias Vidas Olsen, seseorang masyarakat Copenhagen berumur 29 tahun, mengatakan akan masuk dalam unjuk perasaan menampik larangan bercadar ditempat umum.

” Kebanyakan orang memiliki hak kenakan apapun yang mereka kehendaki, apa mereka Muslim atau anggota punk, ” kata Olsen.

Semenjak Mei 2018 lantas, parlemen Denmark sudah mengesahkan undang-undang yang melarang pengenaan penutup muka yang umum dipakai wanita muslim di muka publik.

Dengan mulai laku, otoritas Denmark bisa mengusir beberapa wanita yang kenakan cadar – penutup muka yang cuma tersisa mata – ditempat umum.

Mereka dapat juga kenakan denda sebesar US$160 untuk masalah pelanggaran pertama, dan denda sampai US $1, 500 untuk pelanggaran ke empat.

Denmark, Prancis, Belgia serta beberapa negara Eropa yang lain sudah mengambil beberapa langkah sama pada larangan penggunaan cadar ditempat umum.

Masalah di Prancis
Bahkan juga kepolisian Prancis telah menjatuhkan denda pada seseorang wanita yang tutup semua muka tidak hanya matanya ditempat umum.

Seseorang wanita yang berumur 27 tahun dipakai denda sebesar seputar Rp 2 juta atau ikuti pelatihan kewarganegaraan kurun waktu sebulan semenjak mendapatkan sangsi.

Diresmikan sejak 2011 lantas, Prancis adalah negara pertama di Eropa yang melarang cadar atau burka ditempat umum.

Berdasar pada undang-undang ini, seseorang wanita -warga negara Prancis ataupun masyarakat asing- yang berjalan di jalan raya atau di taman di Prancis dengan kenakan kerudung yang tutup semua muka tidak hanya matanya akan dihentikan polisi serta dijatuhi denda.

Sedang orang yang memaksa wanita kenakan cadar atau burka akan dijatuhi denda semakin besar serta ancaman penjara sampai dua tahun.

Pemerintah Prancis memiliki pendapat penutupan muka tidak cocok dengan standard basic yang dibutuhkan untuk hidup dalam suatu penduduk.

Pengenaan penutup muka itu juga dipandang merendahkan penggunanya ke status lebih rendah yang bertentangan dengan nilai kesamaan Prancis.

Larangan atas penutupan muka ini tidak dengan cara langsung menyebutkan kerudung umat Islam -namun mengecualikan beberapa bentuk lainnya- memunculkan kemarahan di kelompok masyarakat Muslim serta penganut saluran liberalisme.

Pertama-tama di Belgia
Serta sejak 2010 lantas, parlemen Belgia juga akan memutus untuk melarang penggunaan penutup muka yang umum dipakai wanita muslim di muka publik.

Denis Ducarme, dari Pergerakan Reformis kanan-tengah menyarankan perancangan itu, serta menyampaikan ” bangga Belgia jadi negara pertama Eropa yang berani mengatur masalah peka ini “.

Akan tetapi saran ini dipandang mencemaskan terpenting buat mereka yang memandangnya menjadi serangan pada kemerdekaan sipil.

Isabelle Praile, Wakil Presiden Eksekutif Muslim Belgia, menyampaikan ketentuan ini dapat membuat Preseden beresiko.

” Saat ini penutup semua muka, besok kerudung, selanjutnya turban golongan Sikh lantas mungkin saja rok mini dilarang juga, ” tuturnya seperti diambil kantor berita AFP.